Pengertian Taman Formal

Taman Formal…

 

Gaya taman formal sepertinya bertentangan dengan kondisi alam yang cenderung tidak teratur. Taman formal dicicirkan oleh adanya kesan bersih, tenang, dengan pola – pola garis yang tegas dan nyata. Garis tegas ini bisa di lihat pada penataan elemen keras (hard material) maupun elemen lunak (soft material). Perihal peletakan unsur-unsur tamannya, bisa simetris maupun asimetris. Untuk simetris, bidang taman dibagi menjadi dua dimana bentuk kanan dan kirinya sama. Ada juga yang asimetris. Bentuk unsur tamannya tidak sama, tapi tetap harmonis.

Bentuk dari unsur taman bergaya formal biasanya mengambil bentuk dasar dari bangun. Semisal kubus, persegi panjang, tabung, atau kerucut. Perihal bentuk, memang belum begitu berkembang. Kreativitas ke bentuk binatang,bentuk gabungan dan bentuk modifukasi lain belum di perhitungkan. Untuk unsur hard material kebanyaka mengambil bentuk kaku.Semisal fountain yang tegak dengan satu air mancur atau kursi wrought iron yang di desain resmi dengan corak stilasi tanaman.

Taman macam ini dapat di temui di taman kerajaan dan bangsawan eropa tempo dulu.  Dicirikan dengan taman yang luas dan sangat terawat. Kesan elegan dan mewah ditonjolkan disini. Dalam hal fungsi,taman formal dibuat bukan sekedar untuk pemanis. Tetapi lebih pada kepentingan bisnis dan ritual kerajaan. Semisal untuk mengundang minum the,pesta kebun, atau BBQ.

Di Indonesia,desain macam ini kurang diminati. Baik zaman dahulu kala maupun masa kini.Jika di lihat dari sejarah,raja-raja zaman dulu lebih menyukai acara di dalam ruangan daripada di luar ruangan. Makanya desain interior lebih berkembang dari pada eksterior kerajaan. Kecuali taman yang dibuat oleh pemerintahan colonial Belanda. Sisa-sisa taman formal yang masih bisa di lihat hingga kini adalah garden city di sebelah utara alun-alun Merdeka,Kota Malang,Jawa Timur. Taman itu pernah di pamerkan diparis sekitar abad 19. Selain itu,taman perancis di taman bunga Cipanas,merupakan referensi yang bagus.

Taman Perancis

Taman dari benua biru,Eropa pada umumnya mengambil gaya formal murni. Tak terkecuali Taman Perancis di Taman Bunga Nusantara,Cipanas,Bogor. Kerapihan dan keteraturan terasa sanagat menonjol. Taman di bangun dengan bentuk simetris yang berpusat pada air mancur. Susunan tanaman di empat penjuru mata angina di rancang sama persis atau sama lain.

Bangun-bangun geometris yang sangat rapi hadir dalam bentuk tajuk tanaman yang di bentuk (topiary) semakin mengentalkan style taman formal yang di anut. Begitu juga dengan  penataan tumbuhan pembatas yang juga sengaja di bentuk dengan pemangkasan mempertontonkan garis-garis yang sangat tegas. Garis-garis juga muncul lagi pada batas antar tanaman.

Keteraturan juga sangat menonjol dalam pemakaian tanaman, jenis, maupun bentuk tajuknya sengaja di seragamkan. Semisal semua tanaman berbentuk tabung silinder berukuran sama persis.

Sudut Simetris

Formal tak selalu simetris alias sama dan sebangun. Penataan tanaman dengan pola simetris pun bisa di lakukan, tanpa mengurangi kesan bersih dan teratur yang hendak di tampilkan. Semisal dengan mengelompokkan tanaman berdasarkan jenias dan warnanya sengan batas-batas yang tegas dan jelas. Pemakaian kompisisi alias susunan bunga yang seragam juga bisa jadi pilihan.

Taman Informal

Taman dengan style informal cenderung meniru kondisi lingkungn alam seakan taman dan unsur-unsur taman hadir karena proses alami. Taman ini terkesan lebih ramah dan egaliter. Seakan siapa saja boleh masuk. Karena memang terkesan santai. Ini bakal menjadi pilihan yang pas bagi yang menyukai ketidakteraturan.

Dalam hal penantaan, taman informal lagi memperhitungkan keteraturan bentuk. Tetapi lebih menitikberatkan pada karakter masing-masing tanaman. Yaitu warna, tekstur, dan proposi tanaman. Pemilihan warna di sesuaikan dengan luas lahan. Untuk lahan sempit, jangan terlalu banyak menggunakan warna, terutama warna-warna mencolok. Boleh saja menggunakan warna mencolok asalkan diikuti warna lain yang menjadi turunannya. Semisal ada bunga merah, diikuti dengan bunga pink lembut lantas putih. Jangan sampai , merah ketemu dengan kuning menyala. Lahan akan terlihat sempit.

Untuk hard material, taman informal lebih mempertimbangkan fungsi dari sekedar ornament. Semisal lebih memilih air mancur yang mengalir dari mulut patung ikan daripada sekedar ornamen. Semisal lebih memilih air mancur yang mengalir dari mulut patung ikan daripada fountain besar dengan satu aliran. Atau, step pingstone yang berkelok-kelok untuk pijakan menikmati taman.

Sesuai pakemnya, taman informal ini meminimkan campur tangan manusia. Biar alam yang membentuk taman. Contoh sederhana, jika ada lumut di dinding tempayang. Pada taman formal, keberadaan lumut jelas takan dibiarkan. Tapi pada taman informal, lumut itu bakal dibiarkan tumbuh bebas.

Taman Hutan

Gaya taman trofis  diadopsi Candra gunawan dalam taman dikediamannya. Tetumbuhan di tata seperti habitat alami di hutan tropis. Susunan tanaman yang acak dengan daun -daun yang rimbun menjadi salah satu cirinya. Tajuk tanaman dibiarkan tak teratur sesuai dengan arah tumbuh tanaman sendiri.

Kehadiran pohon-pohon bertajuk besar dengan bentuk unik yang berkesan tua semakin menguatkan nuansa hutan trofis yang pengin ditampilkan. Pun begitu dengan setting jalan setapak berkerikil berkelok tanpa menggunakan steping stone. Kolam berbatu menjadi unsur yang sangat  match dengan tatanan tumbuhan yang di tampilkan.

   Hard material yang di pakai juga sangat mendukung tema hutan tropis. Semisal batu -batu kali dengan gentong gerabah yang ditumbuhi lumut. Juga batu buatan bertekstur lekuk-lekuk. Asesoris ini bisa menjadi aksen sekaligus point of interest taman karena daya tariknya yang tinggi.

Taman Semiformal

Berpangkal dari dua gaya  taman yaitu formal dan informal, lantas muncul gaya yang ketiga,yaitu semiformal. Gaya ini menggabungkan keteraturan dan ketidakteraturan dalam sebuah taman. Semisal pola bangunan kolam dan stepping stone yang simetris dikombinasikan dengan kerimbunan tanaman yang di tata acak dan terkesan dibiarkan.

Taman nonformal tidak semua sama. Ada yang meminimalkan sedikit camour tangan manusia. Konsep demikian diterapkan pada gaya jungle garden. Ada juga yang melibatkan campur tangan manusia. Teknik ini paling banyak diterapkan oleh lansekaperi Indonesia. Semisal menggunakan semak-semak tropis yang dipadu dengan topiaria berbentuk binatang.

Taman Semiformal 1

Taman seluas sekitar 50 m2 ini bisa digolongkan sebagai taman semiformal.Semisal pemilihan tanaman yang sangat beragam,baik jenis,bentuk maupaun ukurannya. Kehadiran  stepping stone berkelok juga menambah unsur alami. Penantaan yang sedikit acak semakin mengentalakan aroma inforamal dari kesan tak beraturan yang hadir.

Penantaaan beberapa elemen semisal pot, sebagai hard material, yang rapi memunculkan satu ciri formal didalamnya. Belum penanaman beberapa tumbuhan, sebagai soft material yang juga merujuk bentuk simetris.

Begitu juga dengan pengelempokan tanaman dalam rumpun menunjukan adanya campur tangan manusia yang intens pad ataman ini. Batas atas kelompok tetumbuhan juga akan memunculkan garis-garis yang cukup tegas yang “menyimpang”dari cara tumbuh tanaman di alam.

Taman Semiformal 2

Sekali pandang,gay ataman semiformal tertangkap dari taman milik Trini Soesilo. Susunan tanaman yang acak tak beraturan menjadi unsur yang sangat dominan. Tanaman bertajuk tinggi membaur dengan tumbuhan semak maupun ground cover yang pendek. Begitu juga dengan kombinasi flora berdaun kecil dan berdaun besar.

Tajuk tanaman yang tumbuh seolah tanpa aturan semakin menjauhkan kesan rapi dan teratur yang menjadi ciri utama taman formal. Campur tangan manusia seolah hampir tidak ada. Namun munculnya banyak hard material buatan manusia dalam taman menjadi penanda adanya kesengajaan.

Meskipun pengaruhnya sangat kecil di bandingkan dominannya warna informal dan soft material berupa tanaman  yang acak dan rimbun, kehadiran aksesoris etnis yang sangat khas jelas membawa taste pribadi sang empunya ke dalam taman.

Taman Semiformal 3

Taman ini di rancang mengarah ke gaya semiformal. Penataan tanaman secara acak lantas di terapkan. Irama yang tak teratur dalam perpindahan jenis maupun ukuran tanamn juga di munculkan. Meski begitu keharmonisan dan keseimbangan taman tetap tidak hilang. Begitu juga pemakain stepping stone alami yang di susun berkelok khas taman tropis.

Meskipun sedikit, taman ini tetap mempunyai unsur gaya formal lewat penataan tumbuhan yang membentuk garis. Kemudian pemakian hard material,semisal batu putih sebagai aksesoris, yang mengesankan unsur kesengajaan atau unsur campur tangan manusia. Ketidak hadiran bentuk geometris dan garis yang tegas membuat taman ini lebih memiliki aroma style semiformal yang sangat kental.

Taman Semiformal 4

Taman informal ternyata bisa berpadu harmonis dengan elemen-elemen bergaya formal pada lahan terbatas. Semisal kreasi nelly Antonetta Witt, dari kantor arsitektaman sirih gading berukuran 3,1m x 2,7m. Berbajet hanya 2 jutaan,taman ini berhasil menggabungkan gaya taman tropis dengan gaya minimalis modern.

Perhatian tanaman sebagai cenderung bergaya tropis dengan susunan yang acak dan tajuk yang membentuk tekstur tidak rata. Gradasi ukuran tetap di pakai untuk memunculkan irama dalam menikmatinya. Namun aksen tanaman ukuran medium di bagian depan dan tengah membuat irama taman jadi lebih dinamis. Kehadiran kolam berbibir dan berdasar batu alami semakin menguatkan aroma tropis.

Nuansa taman formal yang modern muncul melalui beberapa unsur hard material yang di pakai.Paling kentara pada steping stone berbentuk geometris padat simetris. Juga terlihat pada batu kali yang menempel di dinding semen bergaris. Taman tropis yang dinamis dan asri pun menjadi terlihat lebih modern dan ber-taste masa kini.

Semoga bermanfaat…….

 

 

Salam hangat

dimensi png

 

Contact to us :