Pengertian Material

MATERIAL

Dari mana dan bagaimana produsen mengambil bahan dasar material

Saat membangun rumah, biasanya kita memilih dan menentukan jenis material yang dipakai bedasarkan fungsi dan harga, tidak memikirkan asal usul dan proses pembuatannya. Padahal, selayaknya tidak mengetahui dengan jelas apa bahan dasarnya, cara pengambilan dan pengolahannya, serta material yang kita pilih berasal dari eksplorasi dari hasil alam yang bertanggung jawab.

Material yang berasal dari sumber alam yang dapat di perbarui, misalnya misalnya kayu dan bamboo, seyogianya diambil dari pohon atau tanaman industry yang memang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan konstruksi. Penebangan liar harus kita hindari, sebab mambawa akibat buruk terhadap kondisi lingkungan dan kelangsungan makluk  hidup.

Logam, seperti almunium dan baja, mengambil bahanmentah dari proses penambangan dangan mengeruk isi bumi yang artinya juga memusnahkan habitat atasnya. Namun, jika penggunaan logam tidak biasa di hindari, gunakanlah secara bijaksana.

Semen, meskipun termasuk material yang baik dalam konteks penggunaan energy, proses penggunaannya banyak mengeluarkan CO2. Oleh karena itu, sudah selaknya produsan semen yang produknya kita beli punya perhatian terhadap pengurangan CO2. Selain itu cermati juga bagaimana pengolahan limbahnya?

 

 

PROSES PEMBANGUNAN KONSTRUKSI

Transrortasi dari lahan ke lahan konstruksi

Selain menghabiskan energy, aktifitas transportasi juga menimbulkan polusi. Untuk itu, agar kualitas lingkungan terus terjaga, harus ada usaha untuk memperkecil komsumsi energy dan tingkat polusi.

Material yang dianggap berkelanjutan disuatu tempat belum tentu dianggap berkelanjutan pula di tempat yang lain. Sebagai contoh, bamboo di jawa barat termasuk berkelanjutan, sebab material ini mudah di perbarui. Tidak demikian di pulau yang lain yang tidak di tumbuhi bambu – harus dikirim dengan transportasi yang jauh. Tidak hanya menghabiskan biaya yang lebih besar. BBM yang terpakai pun lebih banyak sehingga pulusi pun meningkat.

 

Perkembngan ReaL Estat di Indonesia

Berawal dari kebutuhan yang besar akan perubahan rakyat pada decade 1970-an pemerintah membuka kesempatan luasbagi pihak swasta unuk dapat menyediakan rumah rakyat. Perumahan yang tadinya dibangun oleh pihak pemerintah semacam direktorat cipta karya dari departemen PU,Perumnas (perumahan nasional) yangbekerja sama dengan pemerintah pusat ataupun daerah mulai diberikan kepada pihak swasta , terutama untuk masyarakan golongan menengah keatas.

Sebelum tahun 1970, penyediaan perumahan 100 persen dibawah koordinasi pemerintah. Pembangunan perumahan terintergrasi dengan kota dalam konsep NUD (Neighborhood Unit Development), contohnya kawasan tebet, tanjung duren, pulo mas, cempaka putih, grogol, dsb.dengan luas yang cukup besar (30-240)dan dibangun dengan control sepenuhnya dari pemerintah . kalaupum da campurtangan dari pihak swasta, kendali tetep ada dipihak pemerintah.

Baru setelah lokakarya tersebut muncul perumahan skala kecil dan menengah di tengah kota dengan luas 10-12 hektare yang dibangun oleh pihak swasta. Perumahan berskala kecil ini tidak lagi dikendalikan oleh pemerintah sehingga pembangunan sudah tidak terintergrasi dengan pembangunan pemerintah. Kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya, menjadi sesak oleh pembangunan tanpa kordinasi.para pengembang berlomba-lomba mendirikan bangunan dengan wujud dan bentuknya masing-masing. Akibatnya, wajah kota mmenjadi berantakan. Sayangnya hal ini massih terjadi sampai sekarang

Semoga Bermanfaat

Salam Hangat

 

logo 2 ( transparan )

 

 

 

 

 

 

Baca Juga Artikel yang lainnya;

– Jenis-jenis Paving Block

– jenis-Jenis Kanstin 

– Harga Batu Konblok

– Harga Precast Uditch 

 

 

Contact to us :